Pidato Islami LANGKAH DI TAHUN BARU

LANGKAH DI TAHUN BARU
Pidato Islami LANGKAH DI TAHUN BARU

Hadirin Rahimakumullah.
Tak terasa, waktu terus bergulir, sehingga saat ini kita telah memasuki tahun yang baru. Bagi seorang muslim sejati, momentum pergantian waktu, baik hari, pekan, bulan, maupun tahun, akan selalu dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, bukan dengan melakukan hal-hal yang bersifat huru-hara, apa-lagi dengan melakukan kemaksiatan yang dibenci oleh Allah swt..

Ketika pergantian tahun ini kita jadikan sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, baik dalam kaitan kita sebagai pribadi maupun anggota masyarakat muslim, tentu akan kita rasakan bahwa kita belum berbuat banyak dalam mengantisipasi berbagai persoalan yang kita hadapi. Kepribadian kita sebagai muslim seringkali rapuh dengan berbagai godaan yang membawa kita ke arah kemungkinan membuat mungkar, atau paling tidak kita tidak membenci kermungkaran itu. Sementara di lain pihak, sebagai bagian dari mnat, kita pun belum dapat berbuat banyak untuk mengatasi serta mengurangi persoalan kaum muslimin, misalnya kristenisasi yang terjadi di desa-desa dan menghantui penduduk muslimin yang miskin serta bodoh tidak bisa kita halau. Sementara berbagai persoalan umat Islam di negeri lain pun hanya baru bisa kita ikuti melalui berita.

Kaum muslimin yang berbahagia.

Di awal tahun ini, marilah kita sadari bahwa tugas serta tanggung jawab itu dapat kita laksanakan. Insya Allah, kita akan termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bisa mencapai kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang lalu.

Paling tidak, ada lima tugas dan tanggung jawab kita pada masa-masa yang akan datang sebagai upaya merealisasi atau membuktikan muhasabah yang kita lakukan.

Pertama, melakukan islamisasi dari dalam diri. Artinya, membentuk diri kita menjadi pribadi-pribadi yang islami, sehingga segala sikap dan perilaku kita akan mencerminkan nilai-nilai Islam yang agung. Pembentukan pribadi yang islami harus kita mulai dengan pengukuhan iman atau akidah, lalu mengarahkannya ke arah ketakwaan. Kehendak Allah ini dimantapkan di dalam Al-Qur‘an yang berbunyi,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim, berserah diri kepada Allah.” (Ali Imran: 102)

Pembentukan pribadi yang islami tentu saja memerlukan kesungguhan, metode yang tepat, serta waktu yang kontinyu atau terus-menerus. Hal itu berarti tarbiyyah islamziyyah atau pendidikan yang islami, harus berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Hadirin Rahimakumullah.

Tugas dan tanggung jawab yang kedua  adalah membangun rumah tangga yang islami, apalagi rumah tangga seringkali disebut sebagai unit terkecil dari masyarakat. Manakala masyarakat Islam ingin diwujudkan, mutlak harus dibangun terlebih dahulu rumah tangga yang islami. Dari sinilah diharapkan lahir generasi yang saléh.

Dalam kaitan membangun rumah tangga yang islami,pernikahan sangat dianjurkan di dalam Islam, bahkan pernikahan harus dipermudah dan di lain sisi, perceraian harus dipersulit. Namun yang amat kita sayangkan, apa yang terjadi justru sebaliknya, pernikahan menjadi begitu sulit sedangkan perceraian begitu mudah. Akibatnya, perzinaan semakin merajalela di mana-mana. Di dalam hadits, Rasulullah saw. menjelaskan,

”Menikah itu Sunnahku, barangsiapa tidak suka kepada Sunnahku, maka dia bukanlah golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, tugas serta tanggung jawab kita setelah melakukan muhasabah adalah memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat Islam. Kesadaran ini memang sudah mulai tumbuh di kalangan umat Islam meskipun belum merata. Manakala kita pahami fungsi masjid yang seharusnya, kemudian kita lihat kenyataan masjid pada masa sekarang, maka akan kita rasakan bahwa masjid-masjid kita itu umumnya dalam keadaan krisis, baik dari segi kepengurusan, program, dana, fasilitas penunjang, maupun khatib, bahkan hingga partisipasi jamaah yang amat kurang dalam memakmurkan masjid.

Tugas dan tanggung jawab yang keempat adalah melibatkan diri di dalam dakwah. Hal ini harus kita laksanakan karena dakwah merupakan tugas bagi setiap orang yang mengaku sebagai muslim. Hal itu dilaksanakan sesuai dengan latar belakang dan kemampuan masing-masing, bukan hanya menjadi tugas yang harus dipikul oleh orang-orang tertentu saja seperti ulama, kiai, mubalig, dan ustadz. Dengan dakwah, seorang akan merasakan harga diri atau izzah sebagai muslim dan menyadari keagungan Allah swt., bahkan bila seorang muslim telah terlibat secara aktif dalam dakwah, maka dia akan digolongkan oleh Allah ke dalam kelompok khairu ummah atau umat yang terbaik. Allah swt. Berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Maasyiral muslimin rahimakumullah.
Tugas dan tanggung jawab yang terakhir atau yang kelima adalah membuktikan solidaritas dunia Islam. Hal ini diperlukan karena beberapa tahun terakhir, persoalan kaum muslimin di berbagai negara di dunia tampaknya semakin menuntut perhatian, dukungan, sorta solidaritas konkret dari kita. Sementara di lain pihak, perhatian, dukungan, serta solidaritas yang dimaksud belum tampak. Yang tampak adalah ketidaktahuan.

Kita sesama muslim akan maju dan mundurnya perjuangan saudara-saudara kita di negeri lain. Kita tahu bahwa mereka berjuang, tetapi kita tidak tahu apa sebenarnya hakikat perjuangan mereka, sehingga kita memiliki su'uzhan atau buruk sangka yang berlebihan terhadap perjuangan mereka yang sebenarnya saudara kita juga. Akibatnya, kita pun  menjadi mudah termakan oleh berita-berita pers Barat yang benci melihat kemajuan umat, terkait dengan perjuangan mereka yang dinilai ekstrem, fundamentalis, dan sebagainya dengan konotasi yang jelek dan menakutkan.

Hadirin Rahimakumullah.

Ada beberapa buah bentuk solidaritas yang harus kita wujudkan, antara lain adalah pertama, berdoa agar mereka yang berjuang diberikan kekuatan dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan sabar. Kedua, ikut serta dalam memberikan penjelasan kepada umat Islam, sehingga terbentuk opini yang memberikan dukungan kepada perjuangan kaum muslimin. Ketiga, mengumpulkan dana dalam upaya meringankan penderitaan dan beban perjuangan saudara-saudara kita itu. Dan keempat, bila sudah memungkinkan situasi dan kondisinya, kita pun harus menyiapkan dan mengirim pasukan perang hingga membantu secara langsung perjuangan kaum muslimin di berbagai negara.

Dengan iman yang kukuh, optimisme yang kuat, serta kekuatan yang mantap, insya Allah tentara-tentara kafir akan menjadi gentar dan sulit dalam menghadapi kaum muslimin, sehingga cepat atau lambat, kemenangan akan diraih oleh kaum muslimin.

Akhirnya, kita berkewajiban untuk terus berusaha dan berharap semoga pada tahun ini kualitas kehidupan kita, baik sebagai pribadi, keluarga, maupun masyarakat muslim, menjadi lebih baik daripada tahun-tahun yang lalu.

Dan kita sendiri memang telah menyadari bahwa tanggung jawab kita pada masa-masa mendatang semakin besar dan sulit. Oleh karena itu, kita pun bertekad untuk lebih bersungguh sungguh dalam kehidupan sebagai muslim.

Pidato Islami LANGKAH DI TAHUN BARU