Ridha yang Teruji
Beberapa hari setelah penaklukan Makkah, Rasulullah Saw. mendengar berita: dua kabilah Arab yang terkenal pemberani, Hawazin dan Tsaqif, sedang berhimpun untuk menyerang kaum Muslim di Madinah. Beliau pun segera menyusun kekuatan yang terdiri dari sekitar 12.000 orang. Lantas, mereka bertolak ke tempat lawan di Lembah Hunain. Lawan ternyata memilih medan pertempuran yang strategis,yaitu tanah pegunungan yang berbukit-bukit dan berliku-liku. Mereka bersembunyi di balik bukit-bukit, menunggu pasukan Muslim lewat di jalan sempit di bawahnya. Ketika pasukan kaum Muslim tiba di tempat tersebut, lawan menyerang mereka. Pasukan kaum Muslim panik dan lari bercerai-berai. Namun, karena ketenangan dan kepiawaian Rasulullah Saw., didampingi oleh para sahabat dari kalangan Anshar, pasukan kaum Muslim yang kacau-balau dapat dihimpun kembali. Malah, mereka kemudian mampu melakukan serangan balasan. Akhirnya, lawan dapat dihancurkan dan kaum Muslim berhasil mendapatkan harta rampasan perang.
Begitu menerima harta tersebut, Rasulullah Saw. Lantas membagi-bagikannya kepada kaum Muhajirun dan orang-orang yang belum lama memeluk Islam. Misalnya, Abu Sufyan bin Harb diberi empat puluh uqiyah dan seratus unta. Itu pun dia masih meminta bagian untuk anak-anaknya: Yazid dan Mu’awiyah. Sedangkan, Hakim bin Hizam mendapatkan seratus unta. Tapi, dia masih minta seratus ekor unta lagi, dan permintaan itu pun dipenuhi. Shafwan bin Umayyah diberi seratus ekor unta, kemudian seratus ekor unta lagi dan ditambah seratus ekor unta lagi. Sementara,kaum Anshar tidak mendapat bagian apa pun. Melihat hal itu, kaum Anshar kecewa dan mengeluh, "Pada saat kondisi genting dan gawat, kita yang dipanggil.Tapi, akhirnya, harta rampasan itu diberikan kepada orang-orang lain. Kita tidak mendapatkan apa pun!"
Kabar tentang kekecewaan kaum Anshar itu akhirnya sampai juga kepada Rasulullah Saw. yang kala itu sedang berdoa di Bukit Shafa, Makkah. Menerima kabar yang "tak sedap" tersebut, beliau segera memanggil Sa‘d bin 'Ubadah, seorang tokoh kaum Anshar, untuk menemui beliau.
Menerima panggilan beliau, Sa‘d pun segera datang. Selepas mengucapkan salam dan berbagi sapa, Sa‘d berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasul! Di dalam benak orang-orang Anshar bergejolak perasaan yang mengganjal terhadap dirimu, karena apa yang engkau lakukan dalam membagi-bagikan harta rampasan itu. Engkau membagi-bagikannya kepada kaummu sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada kaum Muhajirun dan orang-orang yang baru memeluk Islam, sementara kaum Anshar tidak mendapat bagian apa pun!"
"Lalu, di manakah engkau menempatkan dirimu, wahai Sa'd?" tanya Rasulullah Saw.
"Wahai Rasul! Saya tak mempunyai pilihan lain kecuali harus bersama kaumku,"jawab Sa‘d bin 'Ubadah yang tampak resah dan gelisah.
"KaIau begitu, kumpulkan kaummu di bangunan itu!" ucap Rasulullah Saw.
Ketika orang-orang Anshar telah berkumpul di bangunan tersebut, lantas beliau berkata kepada mereka, "Sahabat-sahabatku! Ada desas-desus disampaikan kepadaku, yang merupakan perasaan yang bergejolak dalam hati kalian terhadap diriku. Bukankah kalian dalam kesesatan ketika aku datang, Ialu Allah membimbing kalian; kalian dalam kesengsaraan, Ialu Allah memberikan kecukupan kepada kalian; kalian dalam permusuhan, Ialu Allah mempersatukan kalian?"
Mereka diam merenung seraya menundukkan kepala.
Melihat tiada jawaban, Rasulullah Saw. lantas melanjutkan kata-kata beliau, “Wahai sahabat-sahabatku dari kalangan
Anshar! Kalian tidak menjawab kata-kataku!"
"Dengan apa kami harus menjawab, wahai Rasul? Segala kemurahan hati dan kebajikan ada pada Allah dan Rasul-Nya jua!"jawab mereka dengan suara lirih dan menekurkan kepala.
"Ya,“ kata Rasulullah Saw. mendengar jawaban yang demikian itu. "Demi Allah! Kalau kalian mau, tentu kalian masih dapat mengatakan (kalian benar dan pasti dibenarkan), ‘Engkau datang kepada kami didustakan orang, kamilah yang mempercayaimu; engkau ditinggalkan orang, kamilah yang menolongmu; engkau diusir, kamilah yang memberimu tempat; engkau dalam sengsara, kami yang menghiburmu!"
Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara, menahan haru. Beberapa saat kemudian, beliau berkata lagi, "Sahabat-sahabatku, kaum Anshar! Kalian marah hanya karena sekelumit harta duniawi yang kuberikan kepada orang-orang yang perlu diambil hatinya agar mereka sudi masuk Islam, sedangkan keislaman kalian sudah dapat dipercaya. Tidakkah kalian ridha, wahai sahabat-sahabatku kaum Anshar, apabila orang-orang itu pergi membawa kambing, membawa unta, sedangkan kalian membawa pulang Rasulullah ke tempat kalian? Demi Dia yang memegang hidup Muhammad! Kalau tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan kaum Anshar menempuh jalan lain, niscaya aku akan menempuh jalan kaum Anshar. AIIahumma ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar!"
”Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami!" jawab mereka menahan haru. Dan, beberapa lama kemudian, Rasulullah Saw. balik lagi ke Madinah bersama mereka
